Nonton Konser Klasik Open Air

August 5th, 2008 by mirantisoetjipto

Sejak beberapa minggu lalu, kami sudah mengidamkan pergi nonton Konser Musik Klasik di kota kami, Nürnberg sambil piknik. Tepatnya di Luitpoldhein. Kalau udara bagus, kalau mood, kalau… Ternyata hari itu udara cerah betul. Langit biru dan panas minta ampun.

Gedung gedung opera di Eropa biasanya memang libur pada musim panas. Ngga ada pementasan teater, konser musik atau opera. Sebagai gantinya, mereka sering juga bikin pementasan open air di kastil atau taman. Yang kami datangi kali ini diklaim sebagai Klassik Open Air terbesar di Eropa. Katanya, lho. Acara ini sekarang jadi ajang tahunan kota kami.Konsepnya, nonton pagelaran musik klasik sambil piknik. Seru, ya? Nggak usah repot repot pake gaun dan behave kayak madam madam, cukup pake sandal. Hihihi..

Jadwalnya dimulai jam 8 malam, saat matahari mulai surut. Jauh jauh hari di bis maupun U-Bahn sudah diberitahukan bahwa semua bis yang lewat Luitpoldhein pada hari konser akan berubah jadwalnya menjadi tiap 10 menit sekali. Ok deh. Mengingat pengalaman tahun lalu yang penontonnya santai aja, kami pun santai. Jarak lokasi konser dan rumah kan cuma sekitar 2 km. Kira kira jam setengah enam, kami melenggang ke halte bis yang kebetulan juga haltenya U-Bahn. Oh My God! Ternyata yang nunggu bis begitu banyak! Mereka pun siap dengan perlengkapan piknik yang lebih serius, seperti kotak pendingin buat minuman dan makanan, kursi lipat, meja lipat. Ngeri.

Betul aja. Bisnya datang dan langsung diserbu penumpang.Padat penumpang, diluar 30 derajat dan bisnya nggak pake AC. Perjalanannya sih cuma 3 halte, tapi pintu bisnya harus ditutup. Lalu, kira-kira 300 meter dari halte terakhir, macet. Supirnya menolak untuk membukakan pintu. Keukeuh. Sementara penumpang udah jerit jerit minta dibukain pintu. Alasannya, kalau dia bukain pintu bukan di halte bis lalu ada penumpang bis dilanggar sepeda, si supir bis bisa dituntut dan langsung dipecat. Dalam situasi ini, naik bis PPD ke Jakarta Fair lebih menyenangkan!

Ups, lembah Luipoldhein dimuka panggung ternyata udah penuh. Begitu pula lokasi lokasi bawah pohon. Jadi terpaksa deh kita ambil lokasi yang agak diluar tapi masih dekat dengan menara speaker. Gelar tiker, menabur bantal bantal dan buka bekal makan malam. Lapar! Menunya sih nggak ngoyo, cuma ayam panggang, perkedel jagung,  timun wortel segar dan ice tea.. kalo mau jajan juga bisa, tapi kok malas ya?

Peminat konser ini yang datang dari berbagai kota terus mengalir dan memadati area area di sekitar lokasi konser. Tadinya saya pikir yang datang ke konser ini adalah orang orang model "klasik", tapi rupanya nggak juga. Dari keluarga, pelajar, mahasiswa, yang jaim abis sampe yang model metal, ada.

Oya, konser ini gratis-tis. Jadwal musiknya juga gratis. Setelah selesai makan, saya jalan jalan sebentar melihat situasi. Duh, jalan aja susah saking banyaknya orang! Jam 8 teng konsernya dimuali dengan lagu pembukaan film Star Wars. Merinding deh. Saya buru buru kembali dan duduk manis di tikar kami.

Saat konser dimulai, penontonnya diam. Mungkin ini bedanya dengan konser musik lainnya. Mereka mendengarkan sambil duduk, ada yang tidur tiduran, minum wine atau sambil makan malam. Kalau bicarapun, dengan suara pelan. Pokoknya santai. Langit tetap bersih, tak berawan juga tak berangin.

Tema konser kali ini adalah Fernweh. Dalam bahasa kita apa ya? Hm? Merindukan tempat tempat jauh? Mungkin. Sebab musik yang dibawain lebih banyak gubahan musisi Italia, seperti Puccini, Verdi, atau musisi Austria, Johann dan Josef Strauss.

Musiknya, bikin hati merekah. Morgenstimmung-nya (Suasana Pagi) Edvard Grieg dibawakan sebagai lagu kedua. Lagu ini sebetulnya merupakan tone wekker hp saya. Setiap pagi. Lucu juga mendengarkan versi komplitnya malam malam begini. Atau Ungarischer Tanz-nya Johannes Brahms, bikin semangat!

Beberapa karya Puccini dari berbagai konser seperti Tosca dan La Boheme juga dipentaskan lengkap dengan penyanyi tenor dan sopran. Yah, padahal saya mengharapkan overture dari opera Turandot. No, no.

Istirahat 20 menit dan guess what, peminat konser ini masih terus datang mengalir dan mencari lokasi strategis. Sayang banyak yang terpaksa duduk benar benar diluar lokasi konser saking kepincutnya dengan konser ini.

Bagian terakhir konser ini saya pikir yang paling menarik. Tepat pada lagu terakhir, bernada polka, "Auf Ferienreise" (pada perjalanan liburan), penonton berdiri dan menyalakan kembang api. Hati saya lumer seketika. Deja Vu. Guess what? Beberapa minggu lalu saya bermimpi. Saya berada di rumah orang tua di Jakarta. Pada kebun kami, pohon pohon, semak dan rumput rumput dipenuhi kembang api. Saya terpukau dan kesal bahwa saya harus bangun saat itu untuk mengejar kereta. Hari ini, saya melihatnya kembali. Di kebun yang lain, dengan musik dan nyata! Lembah Luitpoldhein jadi lautan kembang api. Saya kembali terpana.

Jadwal konser selesai. Tidak ada penonton yang beranjak pulang. mereka menuntut Nuernberger Philharmoniker untuk main lagi. Satu lagu dengan suara sopran. Lalu, overuture opera Turandot oleh penyanyi sopran yang saat ini sedang top karena iklan T-mobile dimainkan. Awwww,  merinding banget. Penutupnya, lagi lagi pengantar musik film Star Wars. Beautiful. Pada saat yang bersamaan, bintang bintang mulai tampak di langit kelam.

Terakhir: pesta kembang api dengan iringan musik klasik. Saya pernah nonton pesta kembang api dalam konser London Philharmonic, di dalam stadion tertutup. Tapi yang ini lebih spektakuler! Nggak ada duanya. Well, kembang api 4 Juli di New York memang jauh lebih bagus, tapi ngga ada live musiknya.

Perlahan, penonton mulai beranjak pulang. Nggak ada dorong doroangan, nggak ada sampah berserakan. I´m really satisfied!

Bookmark and Share

Beijing as I remember

August 4th, 2008 by mirantisoetjipto

Sekarang ini, setiap hari di semua media menyebut nama Beijing. Iya lah, 3 hari lagi pembukaan Olympiade 2008 disitu. Apalagi di televisi, feature tentang Cina dari macem macem segi diulas, dikupas, disisir sampe licin!. Tayangan gambar Beijing dari udara selalu imej kota yang berkabut abu abu: polusi sampe susah ngeliat subyek gambarnya.

Ingatan saya melayang ke tahun 1993 saat pertama kali saya berkunjung kesana. Jelas beda banget dengan gambaran sekarang. Gedungnya makin banyak, makin tinggi. Padahal apartemen murid saya dulu ,si Namika, udah paling tinggi di Beijing, lantai 52! Sekarang, mungkin udah ngga ada apa apanya dibanding dengan gedung gedung sekarang yang lebih canggih, mungkin nggak bisa liat apa apa kebawah saking polusinya.

Beberapa saat lalu saya bertemu rekan wartawan dari ARD Beijing. Surprise-surprise! Dia bilang, kantornya nggak jauh dari sekolah saya dulu di bilangan Hong Miao. Sekolah itu, katanya, masih ada, dan nyempil diantara komplek perkantoran dan apartemen modern.

Berarti, warung tempat saya beli M&M disebrang sekolah itu udah berganti rupa. Berarti warung bakmi dengan atraksi jalanan bikin mi basahnya di stasiun bis itu udah nggak ada. Berarti kios reparasi sepeda dibelakang sekolah yang dikelola kakek nenek yang baik hati itu udah berganti entah jadi apa. Berarti supermarket di pengkolan jalan yang jual es krim dan kue kue nggak jelas itu bisa bisa jadi mall. Berarti restoran sederhana yang memampang poster raksasa Sophia Loren (kita beri nama resto itu "Sophie") tempat saya pacaran dulu, mungkin udah jadi apartemen mewah. Ngga ada lagi eyang eyang yang kumpul di bawah pohon sambil main mahjong. Apalagi cafe Carwash tempat para student pesta di stadion rakyat deket situ.

Semua kota punya cerita. Semua kota selalu ingin keliatan modern dan cantik dengan segala perubahannya. Saya jadi penasaran, kayak apa sekarang jalan jalan yang selalu saya susuri dulu dengan sepeda? Seorang moderator di siaran televisí Jerman bilang "Saya aja dulu tinggal disini 5 tahun! Setelah 7 tahun saya  kembali ke beijing, saya bolak balik nyasar! Saya nggak kenal lagi kota ini".

Well, artinya saya pun harus siap kecewa bila saya kembali kesana dan nggak nemuin apa yang saya harapkan. Tapi Beijing buat saya adalah Beijing yang saya tapaki lorong lorongnya, hutongnya, taman tamannya 15 tahun lalu. Main layangan, bertengkar dengan penumpang bis, jajan di pinggir jalan dan mengamati orang orang latian berdansa di pelataran atau taichi di taman taman.

I promise I will be back one day.

Bookmark and Share

Desperate High heels

June 22nd, 2008 by mirantisoetjipto

Ceritanya berawal pada peresmian sebuah kapal. Ibu ibu pejabat yang hadir disitu tentunya berkostum nasional dengan sepasang selop. Haknya paling banyak 3 senti. Ok lah. Ini persemian kapal. Nggak usah dirinci dalam undangan kan kalau nantinya ada acara tinjauan ke dalam kapal plus naik turun kapal besar plus tengok tengok dek?

Ditengah siraman matahari musim panas hari itu, ada beberapa mbak sebangsa yang mengenakan rok, stocking hitam dan sepatu perak bertali. Haknya 7 senti. Mungkin lagi  terinspirasi Carrie Bradshaw pada film Sex and the City kali. Saya nggak peduli apakah mereka menggunakan Jimmy Choo atau Manolo Blahnik. Tapi, …please deh!! Kalau saya doang yang pusing liat pemandangan seperti itu, bisa lah dibilang saya sirik. Tapi ibu ibu londo sebelah saya pada senggol senggolan, menunjuk obyek yang sama dengan komentar “Nggak punya selera, atau bagaimana?” yang satunya menyahut sambil bisik bisik juga “Maklum aja deh, nggak biasa”.

Tiba tiba saya malu. Kok hanya kedua mbak itu yang ditunjuk. Sebangsa pula. Padahal tadinya saya sebal setengah mati melihatnya. Bukan karena membandingkan sepatu saya yang nggak fashionable, tapi bisa jalan berhari hari. Kalau acaranya dinner, ruang tertutup yang nggak perlu manjat manjat tangga, ok deh, use your 7 cm high heels. Ini pelabuhan laut, jeng!

Sepatu, disamping tas, adalah satu godaan buat kebanyakan kaum saya. Saya termasuk didalamnya. Tapi untuk urusan sepatu saya amat picky. Mahal bukan sesuatu yang wajib. Pertama, harus nyaman. Kedua harus tepat musim. Ketiga kualitas harus baik. Apakah itu boot, high heels sampe sepatu nyaman macam Camper. Masalah timbul saat menyukai sepasang sepatu tapi nggak pas dengan bentuk kaki. Panjang pas, tulang ibu jari mentok. Telapak pas, eh, betis kebesaran. Semua cocok, harga nggak terjangkau. Ini dilema tak berujung.

Masalah lain timbul saat harus kerja di lapangan. Kira kira berapa lama ya jalan kaki hari itu? Kostumnya apa? Kira kira mau ketemu siapa? Cuaca ntar gimana ya? Boot? Pantofel atau kets aja? Lagi lagi: kok nggak ada sepatu yang cocok ya? Dasar serakah.

Saya jadi kepikiran. Kemarin ini seorang sahabat bertanya: "Sepatu elu itu kok nggak ada yang gimana gitu agar kaki elu keliatan bagus?" Hm… iya juga ya. Sejak nggak tinggal di

Jakarta

lagi, saya emang jauh dari high heels, sepatu berujung lancip atau fashionable shoes. Sekarang malah senang sama sepatu yang teplek, ujungnya bulat dan bersol karet. Pokoknya bisa lari naik turun tangga, bawa bawaan berat dan nggak takut keujanan. Sekali kalinya pake high heels, pasti ada back sound: “Mau kemana siiiih?”. Emang nggak boleh?? Lagi lagi dilema, pingin cakep tapi no idea mau dipake kemana itu sepatu. Peresmian kapal? P1 Muenchen? Dream on.

Anyway, saya nggak desperate amat untuk kembali berhigh heels, apa lagi pada sebuah peresmian kapal laut. Kick my ass when I use wrong shoes at the wrong place.

Bookmark and Share

(Bukan) perempuan jalang

May 26th, 2008 by mirantisoetjipto

Mbak manis itu mengangsur kartu namanya. Namanya yang khas Indonesia bersanding dengan nama tipikal Anglo-Saxon. Jabatan kerjanya cukup meyakinkan. „Oh? Menikah dengan Jerman?“ tanya saya. Ia menjawab cepat, „Ya, teman kuliah saya“.

Teman kuliah saya. Kenapa bukan sekedar menjawab „ya“? Saya toh nggak tanya mereka kenal dimana. Peduli apa?

Ini menggelitik pikiran saya. Got you.  Jawaban mbak manis tadi pasti punya latar belakang. Ini bukan analisa asal asalan, tapi hasil penelitian dan pengalaman. Yang pasti,  ada hal yang masih membuatnya tak nyaman: sebagai bini bule.

Let´s face the reality. Bini bule. Kedengarannya memang kasar. Tapi begituah sebutan yang sering terdengar. Ya kan? Nggak pernah ada orang bilang "O, dia bini Arab" atau "O, dia bini Afro" Aneh. Sebel? tentu aja, apalagi bila dikotakkan dalam sekumpulan bini bule lain, yang juga belum tentu kenal, apalagi cocok. Burn in hell!

Being bini bule has never been easy. Setidaknya buat saya. Saat berkenalan dengan orang baru, cepat atau lambat saya akan mendapat pertanyaan, “Kenal dimana dengan suami??” And the story goes on. Bla-bla-bla.  Kadang kadang ini merupakan pertanyaan kedua setelah “Tinggal dimana?”. Saya berpikir, apakah informasi “kenal dimana dengan suami” begitu penting sehingga mengenyampingkan pertanyaan lain seperti, “Kerja dimana?”. No, ternyata fakta kenal dimana sama suami lebih penting guna menetapkan perkiraan latar belakang, social status et cetera.

Tadinya saya amat takut dicap perempuan jalang karena bersuami bule, sehingga saya amat protektif, and did exactly like mbak manis yang memberi saya kartu nama tadi. Akui saja, memang begitu kan anggapan pertamanya? Lama lama saya berpikir, apa iya potongan begini tampak cukup jalang? Jalang nggak jalang kan terletak di attitude, bukan pada fakta menikah dengan bule? Asumsi yang aneh.

It´s also not easy being my husband, as well.  Pada saat pengumuman di kantor bahwa dia mau cuti untuk menikah pun, dia diberondong pertanyaan, “Kenal dimana sama calon istri?”, dia pun bercerita , bla-bla-bla.. rupanya ia juga punya kekhawatiran dicurigai cari bini di katalog lewat internet. Ngeri. Manapula tetangganya Indonesia punya komoditi nomer satu untuk urusan itu. Pusing.

Di buku buku etiket manapun, nggak pernah menyebutkan orang wajib memenuhi pertanyaan pribadi macam ini pada perjumpaan pertama apa lagi pada mereka yang nggak deket.

Memangnya kenapa kalau ketemu suami di internet? Atau di pasar? Atau di pesta? Di diskotik? Atau di pesawat? Apa bedanya dengan ketemu di kantor atau di ruang kuliah? Di jalan jaksa? Does it make sense? Kalau cinta ya sudah. So what? Apa kalau ketemu di konferensi menjamin pernikahan bakal langgeng dibadingkan dengan mereka yang ketemu di suatu warung kopi? Disatu titik saya berhenti untuk menjawab pertanyaan nggak mutu macam ini dan juga tak mau royal royal amat bercerita dimana saya bertemu suami saya. It´s my privacy.

Satu kali, memang sakit hati. Out of the blue, ada yang menuduh terang terangan saya bertemu suami di jalan jaksa. Tentunya saya meledak. Maksut looooo??? Coba jelaskan tuduhan itu dengan uraian yang cerdas sedikit! Tapi ya, yang nuduh juga memang nggak pinter apalagi cerdas. Apa boleh dikata? Apa dia juga pernah ke jalan jaksa? Apa dia tau betul komunitas macam apa aja yang petangkringan disana?

Di lain waktu ada seorang rekan  yang berpendapat, kalau punya suami bule pasti senang ke cafe. Toh, pasti pacarannya dulu di cafe. Pasti senang mabuk. “Minum yuk, boong kalo nggak suka”.  Ini logika paling tolol yang pernah saya dengar, exactly like 2+3+4 =13. Bagaimana kalau gaya pacaran saya bersepeda, dan backpacking seperti gembel? Nah, salah lagi. Jalan-jalan? pasti free sex! Huahahahahaha…!! Apa free sex itu hanya milik kaum bule? Kalau saya punya pacar asli indonesia apa merupakan jaminan nggak free sex? Jangan cari perkara deh.

Anyway, saya nggak sendiri. Pasti banyak kasus yang mirip seperti ini yang menimpa bini bini bule lain. Sabar ya jeng…

Yang pasti, saya capek untuk meluruskan asumsi asumsi yang nggak ada juntrungnya itu. Terserah, kalau mau menjerumuskan diri pada asumsi feodal “nyai-tuan” begitu ya silakan saja. Toh, saya nggak rugi apa apa. Saya merasa nyaman dengan sepatu baru ini. Tadinya memang cukup menggigit.

Bookmark and Share

A flash back of my cat

May 26th, 2008 by mirantisoetjipto

"How´s Koneng anyway?"

After while, my Mom at the other end was silent.

“Bu?”

“Well, take it like this, “ she continued, “Koneng lives happily in the cat world”

“Bu, I´m not seven years old girl. He´s dead, right?

My Mom didn´t say yes or no, “Ah, can you imagine a world without pain? That´s where he is”.

“Pain? Did he get an accident?”

“No, just dissapear, went directly up there”.

My Mom treated me exactly like years ago when I was  at primary school, avoiding the mourning chaos every time my cat died.

It sounds stupid, but later on after I ended my weekly call to my Mom, I bursted into tears. My Mom gave the right answer. She knows me better than anyone in the world.

Koneng or Kuning, my  9 years old tomcat, probably older, had a white yellow colour. My Dad always called him “Merah” means red. In Javanees, this yellow orange colour is “red” already, “looks like gula jawa,” as my Dad explained. So, my Dad kept calling him Merah and I kept calling him Koneng, which means yellow in sundanese.

Koneng is not a normal tomcat who screw every female cat who passed our garden. Two years ago Koneng found his soul mate, a plain yellow young female cat, Jablay, who now live in our house in Jakarta. Since then, they sticked to each other. Sleeping, eating, biting, licking, all together. It seems that love exist in cat world as well.

O dear, he won´t welcome me anymore when I step into my home in Jakarta. He normally might remember me, meowing so loud when he sees me and grumbling, “Where have you been?” Funny,  he will meow back when I answer him. Then he sniff me, rub his body on my legs, makes purr purr voice, pee on my suitcase and for sure, jump into my suitcase, sniffing everything.

As I lived 30 years with different kind of cats at home, I have a kind of attach to feline. When I moved to my recent appartment I realize that I won´t be able to have a cat at home for years. My hubby is a no-cat person. Every cat will directly attack him witout reason.  At the beginning, I felt really sad. I fought this feeling and finally I succeed. The result is, I turn really crazy when I see cats on the street. I do every effort to touch or play with them.

Cat is my best medicine for stress or sad day. I just need to see them walking or moving for awhile, then I´m ok. When I´m able to touch them, that´s a big release.

I tried so many kind of relaxation and meditation. But nothing better than being accompany by cats around. Several days ago, I went to Bonn covering a UN Conference. I used the time to meet my dear friends who live in that city. One night, I stayed at one family who just moved into a new appartment. I promised them to pay a visit and even stay overnight. I entered their new appartment and the smell infomed my whole body at once : the existence of cat!. Yes, they have two cats! O, heaven!

As the host left me for sending her son to bed, I had my meditation ritual. I turned off the lights, went to balcony, had a cup of warm jasmine tee, enjoy the slight windy night and lit a clove cigarette, which I got as an exchange from an Indonesian NGO guy from the conference, earlier that day. “Missing home? take this, mbak,” he said grinning, handed me a pack. The two cats of my dear friend accompanied me sitting in that particular tiny wired balcony.I did the puff-puff-puff and the cats made the purr-purr-purr , sat silenty beside me.

Dark, silent and mighty. No more stress or anger. My life is so perfect. I wished my Koneng was there.

Bookmark and Share

Youth Hostel yang tak selalu untuk Backpackers

May 17th, 2008 by mirantisoetjipto

Kalau bukan pernikahan Vidi dan Daniel, mungkin saya nggak kepikir untuk mengunjungi Dresden lagi. Dari Nuernberg ke Dresden naik kereta makan waktu 4 jam dan jauh dari mana mana. Dulu pernah, sekali. Tapi waktu itu pikiran saya lagi cupet, ditambah suasana musim gugur yang basah dan kelabu. Bisa dibilang, saya nggak inget apa apa tentang Dresden. Oh, nggak ding. Saya ingat waktu itu di Altstadt Dresden, diantara gedung gedung antik, sedang ada foto session: seorang model cantik dengan kostum minimalis diatas Ferrari merah. „Gendheng. Mbak itu apa nggak kedinginan ya?“. That´s it.

Pernikahan Vidi dan Daniel sendiri mengambil tempat di Schloss Pegnitz, sedikit keluar Dresden. Hari itu matahari bersinar. Senangnya!. Dari perjalanan singkat Stasiun kereta api- hostel - Schloss Pegnitz, citra Dreden di benak saya yang abu abu berubah. Dresdenitu cantik! Saya jadi kepingin ah, liat liat kotaini lagi. Let´s see. Mudah-mudahan hari berikutnya ada waktu untuk ikut tur bis keliling

kota

.

Pesta Pernikahan Vidi dan Daniel unik betul. Tamunya nggak banyak seperti pesta pernikahan di Indonesia, hanya teman dan keluarga dekat saja yang diundang. Hasilnya: akrab dan hikmat! Beautiful bride and groom, great place, delicious food and nice people. Bild_093

Untuk urusan penginapan kali ini, saya janjian dengan rekan rekan dari Deutsche Welle untuk sharing kamar aja. Angga, akhirnya menemukan sebuah youth hostel di

Dresden

. Tadinya saya rada malas untuk nginep disitu. Karena yang terbayang di benak saya: backpacking dan sharing bathroom. Oh, no. Ngga ada salahnya sih. Toh, saya juga dulu seneng backpacking. Tapi acaranya kanlain? Pesta kawinan = dandan. Sharing bathroom? Hmmmm.. gimana ya?

Websitenya sih meyakinkan dan murah meriah: 18 Euro plus seprai 2 Euro dan makan pagi 3 Euro (3 buah roti, keju, selai, kopi, teh). Totalnya 23 Euro perorang. Yang penting bisa haha hihi semalaman dengan kolega-kolega putri dari DW.

Fine. Akhirnya tibalah saya di hostel itu: Lolli´s. Kami dapat kamar di lantai tiga, kamar 37. Sebetulnya, ini adalah apartemen dengan 2 kamar, kamar mandi dan dapur. Jadi 1 apartemen disulap menjadi 3 kamar dan 1 kamar mandi. Kamar kami, untuk 4 orang yang dibook khusus buat kami. Jadi nggak usah sharing dengan orang lain.

Wah, ternyata kamar kami unik juga. Kalau pintu apartemen dibuka, lampu disko yang kelap kelip itu langsung nyala. Bild_208 Desain kamarnya punya konsep: Alice in Wondeland. Saya lumayan bengong melihat untuk pertama kalinya: Isi kamar itu: sebuah sofa raksasa yang sepanjang dinding, 2 kursi raksasa dan meja raksasa. Sofa raksasa yang berwarna biru itu yang memuat 2 tempat tidur memanjang. Lalu 2 tempat tidur lagi ada diatas meja raksasa yang harus dipanjat lewat kursi raksasa yang juga berfungsi sebagai meja. Cool! Bild_205_1

Kamar mandinya pun terletak berhadapan dengan kamar kami. Bersih dan terang. Ok deh.

Esok harinya, kami berpisah. Tapi sebelum pulang ke Nuernberg, saya ada acara dulu: makan siang dengan Sarah, seorang teman dari Berlin dan naik bis turis double decker untuk putar putar kota. Lagian, kereta terakhir berangkat jam setengah tujuh malam.

Jadilah, saya bla-bla-bla dengan Sarah dan hampir lupa waktu. Dengan mobil temannya, saya diantar ke stasiun bis turis itu. Setalelah bayar dan milih tempat duduk strategis diatas. Tiba tiba saya sadar: HP saya hilang. Oooow! Celaka!

Nekat, saya pinjam HP mbak pemandu turis dan menelepon HP saya, dengan harapan orang yang menemukan bisa angkat dan beritahu dimana dia berada. Saya rela membatalkan acara jalan jalan itu.

Piiiip..piiiip..piiip, setelah percobaan kedua, telpon saya diangkat, “Hello??” Duh Gusti, saya kenal suara itu, “Sarah!!!!!” . Sarah cuma cekikikan. Dia bilang, “Sudah, kita ketemu aja nanti di stasiun kereta jam setengah enam”. Klik. Duuh, leganya. Jadilah saya masuk lagi kedalam bis dan putar putar kota Dreden yang cantik.

Jam setengah enam, saya sudah kembali ke stasiun kereta api. Yang pertama saya datangi adalah jadwal kereta untuk tau jalur mana kereta saya menunggu. Buset. Ada “Ooooow” kedua. Tau tau Sarah ada dibelakang saya, “HP elu nih,”  saya berterima kasih tapi tampang saya nggak happy.

“Apa lagi Mir?,” katanya.

“Kereta ke Nuernberg. Yang jam setengah tujuh malam itu ternyata hanya jalan hari minggu. Saya ketinggalan kereta”

Sarah diem dulu, matanya membesar, “Shit happens Wahahahahahahah…!”Saya juga ketawa kecut. Ironis, artinya saya harus nginep lagi di Dresden!

Kali ini nggak ada siapa siapa yang saya kenal untuk ditumpangi nginep. Untuk nginep di hotel normal, artinya saya harus bayar lagi. Bener bener shit happens!

Dengan susah payah, akhirnya saya berhasil membujuk (setengah maksa) Sarah untuk tinggal di Dresdensemalem lagi dan ; nginep lagi di Lolli´s! Tadinya dia malas, “Apa? Youth Hostel?? Gue

kan

wartawan profesional! Masak nginep di hostel lagi? Itu mah jaman gue SMA”
Aaah, Sarah,

gaya

amat siih? Tau deh, yang kerja di koran top di Berlin. Toh, Dresden-Berlin cuma satu setengah jam dan dia masuk kantor jam 10. Kapan lagi ngerasain backpacking di youth hostel? Dengan deal yang baik, yaitu nemenin dia cari sepatu sampe toko tutup, akhirnya Sarah mau.

Di Lolli´s kali ini, kami minta kamar yang khusus buat para gadis. Lebih murah lagi, 15 Euro per bed. Kamar ini untuk 8 orang dengan 4 double decker bed. Saya jadi inget penampungan BMI di belakang KBRI Kuala Lumpur Malaysia yang juga terdiri dari double decker bed.

Kamarnya kali ini punya banyak cermin, dindingnya ditempeli poster artis artis cowok. Mas Brad Pitt juga ada. Yang paling imut adalah: di tiap bed tersedia boneka binatang. Moslty berbentuk beruang. Tapi salah satu kakinya diikat pita ke tempat tidur biar nggak ada yang klepto. Sarah pun tidur dengan nyenyak ditemani boneka berbentuk beruang kutub.

Bookmark and Share

Kerak telur

March 10th, 2008 by mirantisoetjipto

Rindu juga ya jalan jalan ke jakarta fair yang sesak manusia itu. Dimana mana pasti denger "ting-ting-ting" pedagang teh botol dan ondel-ondel. Kalo kesana, pulangnya pasti beli kerak telur di abang abang yang udah siaga dari sore di pelataran parkir. 2 telur bebek dan dibakar pake arang. Wah, harumnya nggak ada dua.

Sekarang, saya udah bisa bikin kerak telur walau tanpa arang dan wajan hitam. Bild_715

Jadi ingat pengalaman jadi SPG di Jakarta Fair. Namanya juga mahasiswa cari tambahan beli kertas gambar. Setelah mengalahkan puluhan kandidat, keterima juga saya jadi SPG.  Syaratnya, kudu dandan pake rok mini tapi… jualan biskuit!. Akhirnya pengunjung PRJ bukan beli biskut tapi ngeliatin kaki gua. Hahahaha, 1 hari aja usaha jualan dan abis itu malas dateng lagi.

Bookmark and Share

Kue Bolu mbah putri

March 10th, 2008 by mirantisoetjipto

Bild_756horee, akhirnya bisa juga bikin kueh bolu seperti buatan mbak putri! Sebetulnya ini bukan resep asli, tapi udah ditambah sana sini, jadinya begini.

Lumayan..

Bookmark and Share

33 derajat celcius

October 24th, 2007 by mirantisoetjipto

Beberapa hari lalu saya mengunjungi sebuah organisasi yang letaknya di lantai 3 sebuah gedung di Nuernberg , kota tempat saya tinggal. Di luar, cuacanya top banget: angin, mendung, daun daun mulai berguguran. 5 derajat aja.

Di pintu masuk, saya bertemu dengan 5 perempuan muda yang sedang istirahat merokok. 2 diantaranya baru menyelesaikan isapan terakhir dan berjalan dibelakang saya, sama sama menunggu lift terbuka. Si jaket kuning bicara terus terusan pada si kaus biru. Tadinya saya cuek dengan kicauan si jaket kuning. Tapi ada satu kata yang membuat saya terkesiap.

Jaket kuning (JK): „Bali!“

Kaus biru (KB): „Hah? Maksud kamu?“

Saya: (“Shut up, will you?”)

JK: “Bali! Itu lho, pulau eksotik! Pernah denger?”

Saya: (Don´t you dare to say it now- dengan sorot mata evil)

KB: Ah ya, emangnya ada apa dengan Bali?

JK: Hm.. saya lagi ngebayangin, kalo udaranya begini terus.. saya harap saya menang lotere dan besok saya langsung ke Bali.

KB: Saya belum pernah kesitu. Bagusnya apa?

Saya: (Grrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…)

JK: Bayangin, 33 derajat, pantai pasir putih dan langit biru. Malamnya makan sea food

Saya: (#$§&”?&%)§#&%$!!)

KB: Wah, tapi pacar saya si David nggak suka ke pantai

Saya: (Bagus..sana ke gunung es aja)

Lift terbuka dan kami bertiga masuk

JK: Beda ya sama sama pacar saya, dia seneng banget ke Pantai. Taun lalu kita kesana dan saya ketagihan pengen kesana lagi.. kita ke desa Ubud, disana kita…

KB: (melongo aja)

Saya: (Diaaaammmmmmmm!!!!! aku bilang diaaaammmm!!!!- berharap lift terbuka)

Tapi lift tiada juga terbuka.

Bookmark and Share

Bagi Selembar Tanah

August 2nd, 2007 by mirantisoetjipto

Hidjau-hidjau selembar tanah
hidjaunja kesajangan
Darinja tuahbumi mentjium dan menafasi
tiap kelahiran

Bening, bening mataair di lembah
beningnja bajangan hati
jang takkenal hari-istirahat
Bakaran teruk mentjukur punggung berkilat
dinginnja malam tanpa selimut
Takterasa lagi
Antara terbit dan terbenamnja matahari
tiada batasan lagi

Pada jang akan tumbuh
tumbuh harapan
untuk kini dan akan
Seminar ia, seminar laguan hidup
Seminar ia, seminar diatas kerdja

Atas namanja
dilalui  musim-musim patjeklik
Ditahankan sedjemput djagungrebus
bersama ketela bakar
Atas namanya
tegak tiang kepertjajaan
Jang lahir, takboleh lahir untuk didjumlahkan
dengan  yang sudah mati
Hidjau-hidjau selembar tanah
hidjaunja pepadian dan palawidja
Kesajangan takberputus
Pada hidup dan kerja

Semua memamer mengisi ruang
Dengus² tarikan nafas sibajek
dikesuburan susu ibunja
Tjanda gadis² disisi belik
pertjakapkan djedjaka pilihannja
Alun suling anak gembala
mengelus-elus punggung kerbaunja

Oi, hidup tersajang
menggelarlah, menggelarlah diselembar tanah
Bagimu akan ditembangkan ujon-ujon
dari  galengan ke galengan
Bagimu akan dilentikkan djari-djari
meliuk-liuk udjung sampur

Hidup tersajang, o, datanglah
Para wijogo telah siap menabuh
gamelan galagandjur
Seniman paes dan patjak
telah siap menghias kemanten

Diselembar tanah
menghidjau kesajangan
Kepuasan hati tak pernah berachir
meneguk kemerdekaan
Diselembar tanah
menghidjau kesajangan
Itulah kemerdekaan

Meskipun hidup hanja sekali
dan hilangnja tak terganti
Tak ada sesal membajangi
Wajah² jang telah hilang
atas nama kemerdekaan

mentjutjurpun keringat dipanggang matahari
mengajun tjangkul
Tjutjurannja bukan lagi pertanda
letihnja badan
Karena jang terasa melonjak-lonjak didada
adalah raksasa menggempur gunung

Tapi bila hidup diatas selembar tanah
Dimusnahkan
Traktor², belenggu, pelor melanda
segala sajang
Kemerdekaan, betapapun kata memaniskannja
tinggal ngenesnja terasa dihati

Dan patahpun tulang dan rubuhpun badan
jang menandur taksanggup melihati
patah²nja tangkal² tjangkul² dan rubuhnja pohon² padi
Dan berserakanpun anak-bini ke delapan pendjuru
Jang mentjutjurkan keringat taksanggup melihat
Ter-serak²nja benih dan segala tetandur

Bila hidup di atas selembar tanah
dimusnahkan
Djika hendak meletus, meletuslah bedil
sekalipun  bidangdada djadi tadahannja
Karena betapa kata telah diguratkan dalam² kehati
Bersama segala bibit jang disemai dan ditandur:
“Tanah tersajang, atasmu kami hidup
dan mati!”

Menangis, menangislah kalian
jang telah membelulang bagi kemerdekaan
Mendjerit, mendjeritlah kalian
jang masih akan dilahirkan dari kandungan bunda
Jang kini tegakkan kaki diatas selembar tanah
pantang menangis!

Bagi selembar tanah
kemerdekaan telah direbut
Bagi selembar tanah
njawapun tak tersajang
Darinja tuanbumi mentjium dan menafasi
tiap kelahiran

Rumambi
Desa Jang Pantang Menjerah, 8 Des, 1961

Bookmark and Share