Nonton Konser Klasik Open Air
August 5th, 2008 by mirantisoetjipto
Sejak beberapa minggu lalu, kami sudah mengidamkan pergi nonton Konser Musik Klasik di kota kami, Nürnberg sambil piknik. Tepatnya di Luitpoldhein. Kalau udara bagus, kalau mood, kalau… Ternyata hari itu udara cerah betul. Langit biru dan panas minta ampun.
Gedung gedung opera di Eropa biasanya memang libur pada musim panas. Ngga ada pementasan teater, konser musik atau opera. Sebagai gantinya, mereka sering juga bikin pementasan open air di kastil atau taman. Yang kami datangi kali ini diklaim sebagai Klassik Open Air terbesar di Eropa. Katanya, lho. Acara ini sekarang jadi ajang tahunan kota kami.Konsepnya, nonton pagelaran musik klasik sambil piknik. Seru, ya? Nggak usah repot repot pake gaun dan behave kayak madam madam, cukup pake sandal. Hihihi..
Jadwalnya dimulai jam 8 malam, saat matahari mulai surut. Jauh jauh hari di bis maupun U-Bahn sudah diberitahukan bahwa semua bis yang lewat Luitpoldhein pada hari konser akan berubah jadwalnya menjadi tiap 10 menit sekali. Ok deh. Mengingat pengalaman tahun lalu yang penontonnya santai aja, kami pun santai. Jarak lokasi konser dan rumah kan cuma sekitar 2 km. Kira kira jam setengah enam, kami melenggang ke halte bis yang kebetulan juga haltenya U-Bahn. Oh My God! Ternyata yang nunggu bis begitu banyak! Mereka pun siap dengan perlengkapan piknik yang lebih serius, seperti kotak pendingin buat minuman dan makanan, kursi lipat, meja lipat. Ngeri.
Betul aja. Bisnya datang dan langsung diserbu penumpang.Padat penumpang, diluar 30 derajat dan bisnya nggak pake AC. Perjalanannya sih cuma 3 halte, tapi pintu bisnya harus ditutup. Lalu, kira-kira 300 meter dari halte terakhir, macet. Supirnya menolak untuk membukakan pintu. Keukeuh. Sementara penumpang udah jerit jerit minta dibukain pintu. Alasannya, kalau dia bukain pintu bukan di halte bis lalu ada penumpang bis dilanggar sepeda, si supir bis bisa dituntut dan langsung dipecat. Dalam situasi ini, naik bis PPD ke Jakarta Fair lebih menyenangkan!
Ups, lembah Luipoldhein dimuka panggung ternyata udah penuh. Begitu pula lokasi lokasi bawah pohon. Jadi terpaksa deh kita ambil lokasi yang agak diluar tapi masih dekat dengan menara speaker. Gelar tiker, menabur bantal bantal dan buka bekal makan malam. Lapar! Menunya sih nggak ngoyo, cuma ayam panggang, perkedel jagung, timun wortel segar dan ice tea.. kalo mau jajan juga bisa, tapi kok malas ya? 
Peminat konser ini yang datang dari berbagai kota terus mengalir dan memadati area area di sekitar lokasi konser. Tadinya saya pikir yang datang ke konser ini adalah orang orang model "klasik", tapi rupanya nggak juga. Dari keluarga, pelajar, mahasiswa, yang jaim abis sampe yang model metal, ada.
Oya, konser ini gratis-tis. Jadwal musiknya juga gratis. Setelah selesai makan, saya jalan jalan sebentar melihat situasi. Duh, jalan aja susah saking banyaknya orang! Jam 8 teng konsernya dimuali dengan lagu pembukaan film Star Wars. Merinding deh. Saya buru buru kembali dan duduk manis di tikar kami.

Saat konser dimulai, penontonnya diam. Mungkin ini bedanya dengan konser musik lainnya. Mereka mendengarkan sambil duduk, ada yang tidur tiduran, minum wine atau sambil makan malam. Kalau bicarapun, dengan suara pelan. Pokoknya santai. Langit tetap bersih, tak berawan juga tak berangin.
Tema konser kali ini adalah Fernweh. Dalam bahasa kita apa ya? Hm? Merindukan tempat tempat jauh? Mungkin. Sebab musik yang dibawain lebih banyak gubahan musisi Italia, seperti Puccini, Verdi, atau musisi Austria, Johann dan Josef Strauss.
Musiknya, bikin hati merekah. Morgenstimmung-nya (Suasana Pagi) Edvard Grieg dibawakan sebagai lagu kedua. Lagu ini sebetulnya merupakan tone wekker hp saya. Setiap pagi. Lucu juga mendengarkan versi komplitnya malam malam begini. Atau Ungarischer Tanz-nya Johannes Brahms, bikin semangat!

Beberapa karya Puccini dari berbagai konser seperti Tosca dan La Boheme juga dipentaskan lengkap dengan penyanyi tenor dan sopran. Yah, padahal saya mengharapkan overture dari opera Turandot. No, no.
Istirahat 20 menit dan guess what, peminat konser ini masih terus datang mengalir dan mencari lokasi strategis. Sayang banyak yang terpaksa duduk benar benar diluar lokasi konser saking kepincutnya dengan konser ini. 
Bagian terakhir konser ini saya pikir yang paling menarik. Tepat pada lagu terakhir, bernada polka, "Auf Ferienreise" (pada perjalanan liburan), penonton berdiri dan menyalakan kembang api. Hati saya lumer seketika. Deja Vu. Guess what? Beberapa minggu lalu saya bermimpi. Saya berada di rumah orang tua di Jakarta.
Pada kebun kami, pohon pohon, semak dan rumput rumput dipenuhi kembang api. Saya terpukau dan kesal bahwa saya harus bangun saat itu untuk mengejar kereta. Hari ini, saya melihatnya kembali. Di kebun yang lain, dengan musik dan nyata! Lembah Luitpoldhein jadi lautan kembang api. Saya kembali terpana.
Jadwal konser selesai. Tidak ada penonton yang beranjak pulang. mereka menuntut Nuernberger Philharmoniker untuk main lagi. Satu lagu dengan suara sopran. Lalu, overuture opera Turandot oleh penyanyi sopran yang saat ini sedang top karena iklan T-mobile dimainkan. Awwww, merinding banget. Penutupnya, lagi lagi pengantar musik film Star Wars. Beautiful. Pada saat yang bersamaan, bintang bintang mulai tampak di langit kelam.

Terakhir: pesta kembang api dengan iringan musik klasik. Saya pernah nonton pesta kembang api dalam konser London Philharmonic, di dalam stadion tertutup. Tapi yang ini lebih spektakuler! Nggak ada duanya.
Well, kembang api 4 Juli di New York memang jauh lebih bagus, tapi ngga ada live musiknya.
Perlahan, penonton mulai beranjak pulang. Nggak ada dorong doroangan, nggak ada sampah berserakan. I´m really satisfied!




